Kamis, November 03, 2011

Artikel Dr. Yusuf Qardhawi


MENUTUP RAMBUT BAGI WANITA
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

PERTANYAAN

Ada sebagian orang  mengatakan  bahwa  rambut  wanita  tidak
termasuk  aurat  dan  boleh dibuka. Apakah hal ini benar dan
bagaimana dalilnya?

JAWAB

Telah menjadi suatu ijma' bagi kaum Muslimin di semua negara
dan  di  setiap  masa  pada  semua  golongan  fuqaha, ulama,
ahli-ahli hadis dan ahli tasawuf, bahwa  rambut  wanita  itu
termasuk perhiasan yang wajib ditutup, tidak boleh dibuka di
hadapan orang yang bukan muhrimnya.

Adapun sanad  dan  dalil  dari  ijma'  tersebut  ialah  ayat
Al-Qur'an:

     "Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah
     mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya,
     dan janganlah menampakkan  perhiasannya, kecuali
     yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka
     menutupkan kain kerudung ke dadanya, ..."
    (Q.s. An-Nuur: 31).

Maka,  berdasarkan  ayat  di atas, Allah swt. telah melarang
bagi  wanita  Mukminat  untuk  memperlihatkan  perhiasannya.
Kecuali  yang  lahir  (biasa  tampak). Di antara para ulama,
baik dahulu maupun sekarang, tidak ada yang mengatakan bahwa
rambut  wanita  itu  termasuk  hal-hal  yang  lahir;  bahkan
ulama-ulama yang  berpandangan  luas,  hal  itu  digolongkan
perhiasan yang tidak tampak.

Dalam  tafsirnya,  Al-Qurthubi mengatakan, "Allah swt. telah
melarang kepada kaum  wanita,  agar  dia  tidak  menampakkan
perhiasannya   (keindahannya),  kecuali  kepada  orang-orang
tertentu; atau perhiasan yang biasa tampak."

Ibnu Mas'ud berkata, "Perhiasan yang  lahir  (biasa  tampak)
ialah   pakaian."  Ditambahkan  oleh  Ibnu  Jubair,  "Wajah"
Ditambah pula oleh Sa'id Ibnu Jubair dan  Al-Auzai,  "Wajah,
kedua tangan dan pakaian."

Ibnu  Abbas,  Qatadah  dan Al-Masuri Ibnu Makhramah berkata,
"Perhiasan (keindahan) yang lahir itu ialah celak, perhiasan
dan cincin termasuk dibolehkan (mubah)."

Ibnu Atiyah berkata, "Yang jelas bagi saya ialah yang sesuai
dengan arti ayat tersebut, bahwa wanita diperintahkan  untuk
tidak  menampakkan  dirinya dalam keadaan berhias yang indah
dan supaya berusaha  menutupi  hal  itu.  Perkecualian  pada
bagian-bagian  yang  kiranya berat untuk menutupinya, karena
darurat dan sukar, misalnya wajah dan tangan."

Berkata Al-Qurthubi, "Pandangan Ibnu  Atiyah  tersebut  baik
sekali, karena biasanya wajah dan kedua tangan itu tampak di
waktu biasa  dan  ketika  melakukan  amal  ibadat,  misalnya
salat, ibadat haji dan sebagainya."

Hal  yang  demikian  ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan
oleh Abu Daud dari Aisyah r.a. bahwa ketika Asma' binti  Abu
Bakar  r.a.  bertemu dengan Rasulullah saw, ketika itu Asma'
sedang  mengenakan  pakaian  tipis,  lalu  Rasulullah   saw.
memalingkan muka seraya bersabda:

     "Wahai Asma'! Sesungguhnya, jika seorang wanita
     sudah sampai masa haid, maka tidak layak lagi bagi
     dirinya menampakkannya, kecuali ini ..." (beliau
     mengisyaratkan pada muka dan tangannya).

Dengan demikian, sabda Rasulullah saw. itu menunjukkan bahwa
rambut  wanita   tidak   termasuk   perhiasan   yang   boleh
ditampakkan, kecuali wajah dan tangan.

Allah  swt.  telah  memerintahkan  bagi  kaum wanita Mukmin,
dalam  ayat  di  atas,  untuk  menutup  tempat-tempat   yang
biasanya  terbuka  di  bagian dada. Arti Al-Khimar itu ialah
"kain  untuk  menutup  kepala,"  sebagaimana   surban   bagi
laki-laki,   sebagaimana  keterangan  para  ulama  dan  ahli
tafsir. Hal ini (hadis  yang  menganjurkan  menutup  kepala)
tidak terdapat pada hadis manapun.

Al-Qurthubi  berkata,  "Sebab  turunnya  ayat tersebut ialah
bahwa pada masa itu kaum wanita jika menutup  kepala  dengan
akhmirah  (kerudung), maka kerudung itu ditarik ke belakang,
sehingga dada, leher dan telinganya  tidak  tertutup.  Maka,
Allah swt. memerintahkan untuk menutup bagian mukanya, yaitu
dada dan lainnya."

Dalam riwayat Al-Bukhari, bahwa Aisyah r.a.  telah  berkata,
"Mudah-mudahan wanita yang berhijrah itu dirahmati Allah."

Ketika turun ayat tersebut, mereka segera merobek pakaiannya
untuk menutupi apa yang terbuka.

Ketika Aisyah r.a. didatangi oleh Hafsah, kemenakannya, anak
dari saudaranya yang bernama Abdurrahman r.a. dengan memakai
kerudung (khamirah) yang tipis di  bagian  lehernya,  Aisyah
r.a.   lalu   berkata,   "Ini   amat   tipis,   tidak  dapat
menutupinya."

---------------------------------------------------
Fatawa Qardhawi: Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Cetakan Kedua, 1996
Penerbit Risalah Gusti
Jln. Ikan Mungging XIII/1
Telp./Fax. (031) 339440
Surabaya 60177

Indahnya Kedamaian
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

ManajemenQolbu.Com : Semoga Allah yang Mengenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita
semua agar dapat memahami hikmah dibalik kejadian apapun yang menimpa dan semoga Allah
membimbing kita untuk bisa menyikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik kita

Saudaraku,negeri kita kini benar-benar sedang berduka dimana telah terjadi musibah yang
memilukan di Bali yang telah memakan korban 171 Orang tewas, 100 ruko terbakar, 25 mobil
hancur.Kita benar-benar merasa prihatin, seluruh ummat Islam serta masyarakat Indonesia
benar-benar prihatin atas kejadian ini, kami tidak bisa menerima kekejian - kekejian seperti
ini,kepada saudara-saudaraku yang berada di Bali atau di tempat yang terkena musibah,semoga
tetap diberikan karunia kepala yang dingin sehingga dapat berpikir jernih supaya musibah ini
tidak menjadi musibah-musibah lainnya dan semoga aparat dengan bimbingan Allah dengan segera
dapat menemukan siapa biang kedzaliman seperti ini.
Memang dengan adanya isu terorisme di dunia ini yang secara tidak langsung benar atau tidak
benar mengarah ke negeri ini akan menjadi cobaan bagi kita,oleh karenanya kewaspadaan harus
kita tingkatkan agar tidak termakan isu yang hanya akan menyebabkan negeri kita menjadi ambruk
oleh sikap kita sendiri.

Saya percaya sepenuhnya bahwa tidak mungkin orang yang beriman akan berperilaku keji seperti
ini, mestilah yang berbuat kekejian seperti ini adalah orang yang menginginkan kerusakan bagi
kita semua.Bali adalah propinsi yang dikenal aman sehingga sering dikunjungi oleh wisatawan dari
mancanegara ,tetapi dengan diledakkan bom disana yang memakan korban begitu banyak orang asing
tentu akan memojokkan negeri kita ini.
Dengan adanya kejadian ini ,bagi ummat Islam di Indonesia dan juga umat lainnya benar-benar
diharapkan akan menjadi momentum yang baik untuk saling memperat persaudaraan, bergandengan
tangan, jangan sampai kejadian ini justru memecah belah kita, karena kalau kita pecah, tidak
akan lagi kekuatan.

Semoga Allah yang Maha Tahu benar-benar menolong kita semua untuk mengetahui siapa dibalik
kekejian ini. Mungkin bagi yang menginginkan kehancuran ummat ,kehancuran negeri,yang dengan
sengaja melakukan perbuatan seperti ini mereka berharap nama baik negeri kita semakin tercoreng,
umat Islam juga mungkin akan dijadikan sasaran Naudzubillahi Mindzalik.

Namun demikian jangan pernah kita bertindak emosional sehingga kita terjebak dan justru hanya
akan memperparah masalah. Mudah-mudahan saudara-saudaraku di Bali dan juga di Sulawesi yang
ditimpa musibah diberikan kesabaran dan kesanggupan untuk terus menerus bertindak tepat sehingga
memudahkan penyelesaian masalahnya, dan semoga kejadian ini dapat mempererat kebersamaan seluruh
anak bangsa agar kita tidak menjadi hancur karena provokasi orang-orang yang keji.
Saudara-saudaraku sekalian, Alhamdullilah saat melakukan kunjungan ke Poso beberapa waktu yang
lalu dari pengamatan di udara tampak betapa Masjid yang terbakar, Gereja yang hangus,
rumah-rumah yang hancur, ladang dan toko yang rusak, kaum muslimin yang kehilangan ayah, istri,
anak disatu sisi lain kaum Nasrani yang kehilangan ayah, suami ,istri ,anak, suasana pada waktu
konflik begitu mencekam, hari-hari pada waktu konflik begitu penuh ketegangan.Pertanyaannya
siapakah yang beruntung dari kerusakan seperti ini ?

Alhamdullilah, dengan pertolongan Allah dan kebaikan bapak-bapak Polisi, Bupati dan juga
undangan dari pendeta di Tentena (sebuah lingkungan yang mayoritas Nasrani), dengan pembicaraan
yang dilakukan dari hati ke hati ternyata lebih mudah dipahami dibandingkan jika pembicaraan
yang dilakukan oleh otot ke otot.

Saudaraku yang paling kita butuhkan di negeri ini adalah kedamaian,alam negeri kita sangat kaya
dan tidak akan bisa kita kelola jikalau waktu kita habis untuk bertengkar, jangankan sebuah
Negeri, di rumah pun yang kita bangun dengan kasur yang empuk, acesories rumah yang mahal, tidak
akan ternikmati andaikata suami dan istri sibuk bertengkar, tidak akan bahagia jika orang tua
dan anak selalu bertengkar,di kantor tidak akan nyaman jika karyawan dan direksi atau manajemen
bertengkar, apa yang bisa diperoleh dari pertengkaran ?

Mengapa kita bertengkar ? Salah satu penyebabnya adalah karena kita belum terbiasa menyikapi
perbedaan dengan cara yang paling tepat, kita sering melihat perbedaan itu sebagai permusuhan,
mental kita belum siap melihat perbedaan, beda pendapat sering dianggap perlawanan atau ancaman
akibatnya setiap orang lebih sibuk membela pendapatnya sendiri.

Pertengkaran rumus dasarnya adalah ketika setiap orang membenarkan pendapatnya, setiap kelompok
membenarkan ,ini merasa benar, itu merasa benar, kita ambil contoh ; seorang anak merasa benar ,
bahwa memilih sekolah harus sesuai dengan pilihan anak,sedangkan orang tua merasa benar dengan
memilihkan jodoh atau sekolah untuk masa depan anak,akibatnya terjadi pertengkaran , setiap
orang yang tidak terlatih untuk bisa memahami pendapat orang lain hasilnya adalah emosional.

Semua pertengkaran diawali dengan pembenaran,ketika terjadi tawuran antar kampung dengan
saling melempar batu, saling melempar bom molotov, salah satu pihak merasa benar sehingga pihak
lain merasa berhak pula untuk membalas karena sama pula merasa benar, akibatnya pembalasan itu
akan setimpal, saling menyerang, rumah sama-sama terbakar, banyak yang terluka, cacat,
terbunuh,akibatnya hari-hari yang dilalui penuh ketegangan,anak-anak tidak bisa sekolah lagi,
tidak bisa mencari nafkah, apa yang diuntungkan ? Hidup di dunia hanya satu kali saudaraku, dan
belum tentu kita panjang umur, haruskah hidup yang sekali-kalinya ini sengsara karena
permusuhan diantara kita.

Kita harus berbuat banyak untuk mencapai kedamaian, kalau tidak damai tidak ada yang bisa
dinikmati, tidak nyaman, sekolah tegang, dijalan tegang, guru was-was, orang tua melepas anak
cemas. Kita harus bertekad program terpenting kita sekarang adalah belajar untuk tidak
bertengkar ; ibu-ibu belajar untuk tidak bertengkar dengan suami, berani mengalah untuk tidak
bertengkar,bapak berani mengalah kepada istri untuk tidak bertengkar, mulailah dari diri
sendiri ,InsyaAllah kedamaian akan dinikmati.

Kita harus mengawali untuk menyelamatkan dan merubah bangsa ini, dengan mengawali dari diri
sendiri, sehebat apapun kita ingin bangsa ini berubah, kita ingin umat berubah, kita ingin
keluarga berubah, kita ingin anak berubah, tidak akan bisa kalau kita tidak merubah
diri.Silahkan bapak memberi nasehat kepada ibu dengan memberikan nasehat yang terbaik,tidak
akan efektif kalau bapak tidak memperbaiki diri ! ibu memberi nasehat kepada anak sampai bibir
berbusa tidak akan efektif kecuali kalau ibu memperbaiki diri.

Sekarang kita terlalu banyak memikirkan orang lain yang berubah sampai tidak ada waktu untuk
merubah diri. Para komandan, para pimpinan , ingin prajuritnya berubah, tidak akan terjadi
sebelum para pemimpinnya merubah diri.

Jika seorang komandan ingin pasukan berubah maka komandannyalah yang harus berubah. Bagaimana
mungkin memerintahkan prajurit, hidup bersahaja, kalau pimpinan tidak bersahaja, jangan menyuruh
orang lain,sebelum menyuruh diri, jangan melarang orang sebelum melarang diri sebab yang
disuruh, memiliki mata , telinga dan pikiran, setiap orang yang berbeda antara perkataan dan
perbuatan akan jatuh wibawanya walaupun kita tidak berkata tetapi kalau kita gigih memperbaiki
diri itu sudah berdampak sudah banyak.

Kepada para pimpinan misalkan jika saya, seorang gubernur, ingin masyarakat berubah,tentu kita
harus bertanya sudah memberi contoh apa kita untuk masyarakat ? Saya ingin masyarakat sholeh?
Sudah sholehkah yang bicaranya ? Ingin masyarakat akur ? pertanyaannya ,sudah akurkah saya
dengan istri? akur tidak dengan anak? Maaf ini bukan menggurui para gubernur ? ini hanyalah
sebuah cerita di negara antah berantah.

Kalau saya seorang guru ingin merubah murid , mau merubah apa ? Pertanyaan seorang guru, Saya
memberi contoh apa pada murid-murid? Murid merokok? Pertanyaannya saya merokok tidak?Bagaimana
murid tidak merokok kalau gurunya merokok. Maaf misalnya saya seorang guru, kenapa murid
mengganja ? Mungkin awalnya merokok , Kenapa murid merokok? Saya yang memberikan contoh. Oleh
karena itu Ibda binafsik mulailah dari diri sendiri.
Bukankah konsep kita ada tiga :
1. Mulailah dari diri sendiri
2. Mulailah dari hal yang kecil
3. Mulailah saat ini juga
Apa yang harus kita lakukan? kita harus berlatih untuk meminimalisir konflik dengan empat
rumus :
1. Kita harus belajar bijak terhadap kekurangan dan kekurangan orang lain ; Tidak setiap orang
berbuat salah , ada yang salah karena tidak tahu itu salah, ada yang salah dia tahu tapi belum
sanggup menghindar, ada yang salah karena terpaksa, ada yang salah karena memang sering bikin
kesalahan.
2. Kalau kita ingin enak bergaul dengan orang lain kita harus senang mengingat kebaikan dan
berani mengakui kelebihan orang lain ; Kita ambil contoh seseorang ,ketika seorang anak marah
kepada ibunya, cobalah untuk menuliskan kekurangan ibu, setelah selesai cobalah untuk menuliskan
kebaikannya, apa yang ditulis ? kita di dalam perut ibu selama sembilan bulan,ibu kita untuk
berdiri sulit, berbaring sakit, berjalan berat ,ketika melahirkan bersimbah darah sudut antara
hidup dan mati, ketika bayi…… sepanjang hari, sepanjang malam ibu senantiasa
menungu,ketika kita pipis dan mengenai baju ibu, ibu kita tetap rela,apalagi kalau kita sakit
seakan tidak boleh satu nyamuk pun menyentuh tubuh ini, waktu kita sekolah ibu sampai hutang
bapak pinjam uang, agar kita punya sepatu, agar kita bisa sekolah.Semakin banyak kebaikan yang
kita pikirkan Insya Allah akan membuat semakin lunak hati ini, semakin banyak keburukan yang
kita kumpulkan semakin dendam kesumat diri ini. Mas
alahnya kita itu sering lebih sibuk melihat kejelekan daripada kebaikan. Tidak adil
saudaraku, kita tidak bergaul dengan setan, pasti ada kebaikannya, kita tidak bergaul dengan
malaikat, pasti ada kejelekannya, maka marilah senang melihat kebaikan orang lain.
3. Kita harus mulai untuk melupakan jasa dan kebaikan diri ; Semakin kita ingin dihargai,
semakin kita ingin dihormati, semakin kita ingin dipuji, semakin kita banyak sakit hati hanya
akan menyengsarakan kita , oleh karena itu lupakanlah……. Allah Maha Melihat semakin
kita merasa berjasa hanya akan menyebabkan sakit hati,saudaraku pujian manusia kecil, pujian
Allah-lah yang kekal,Pujian Allah mulia dunia akherat

Wahai saudara-saudaraku para pembela umat marilah kita melupakan jasa-jasa kita, tidak mengapa
orang lain tidak ada tahu, Aa terkenang dengan nasehat Bung Hatta semoga Allah memuliakan
beliau, jadilah seperti garam dilautan, asin terasa tapi tidak kelihatan, jangan seperti gincu
kelihatan tapi tidak terasa, kita harus memulai berbuat sesuatu seperti beton, mengokohkan tanpa
harus kelihatan, seperti jantung, siang malam kerja tanpa kelihatan ,kita tidak akan sukses
kalau tiap kelompok ingin menonjolkan diri, pemilu yang akan datang sebaiknya partai jangan
sibuk menonjolkan diri tapi menonjolkan kebersamaan Insya Allah akan berbuah kesuksesan.