Indahnya Kedamaian
Oleh
: KH. Abdullah Gymnastiar
ManajemenQolbu.Com : Semoga Allah yang
Mengenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita
semua agar dapat memahami
hikmah dibalik kejadian apapun yang menimpa dan semoga Allah
membimbing kita
untuk bisa menyikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik
kita
Saudaraku,negeri kita kini benar-benar sedang berduka dimana telah
terjadi musibah yang
memilukan di Bali yang telah memakan korban 171 Orang
tewas, 100 ruko terbakar, 25 mobil
hancur.Kita benar-benar merasa prihatin,
seluruh ummat Islam serta masyarakat Indonesia
benar-benar prihatin atas
kejadian ini, kami tidak bisa menerima kekejian - kekejian seperti
ini,kepada
saudara-saudaraku yang berada di Bali atau di tempat yang terkena
musibah,semoga
tetap diberikan karunia kepala yang dingin sehingga dapat
berpikir jernih supaya musibah ini
tidak menjadi musibah-musibah lainnya dan
semoga aparat dengan bimbingan Allah dengan segera
dapat menemukan siapa
biang kedzaliman seperti ini.
Memang dengan adanya isu terorisme di dunia ini
yang secara tidak langsung benar atau tidak
benar mengarah ke negeri ini akan
menjadi cobaan bagi kita,oleh karenanya kewaspadaan harus
kita tingkatkan
agar tidak termakan isu yang hanya akan menyebabkan negeri kita menjadi
ambruk
oleh sikap kita sendiri.
Saya percaya sepenuhnya bahwa tidak
mungkin orang yang beriman akan berperilaku keji seperti
ini, mestilah yang
berbuat kekejian seperti ini adalah orang yang menginginkan kerusakan
bagi
kita semua.Bali adalah propinsi yang dikenal aman sehingga sering
dikunjungi oleh wisatawan dari
mancanegara ,tetapi dengan diledakkan bom
disana yang memakan korban begitu banyak orang asing
tentu akan memojokkan
negeri kita ini.
Dengan adanya kejadian ini ,bagi ummat Islam di Indonesia
dan juga umat lainnya benar-benar
diharapkan akan menjadi momentum yang baik
untuk saling memperat persaudaraan, bergandengan
tangan, jangan sampai
kejadian ini justru memecah belah kita, karena kalau kita pecah, tidak
akan
lagi kekuatan.
Semoga Allah yang Maha Tahu benar-benar menolong kita
semua untuk mengetahui siapa dibalik
kekejian ini. Mungkin bagi yang
menginginkan kehancuran ummat ,kehancuran negeri,yang dengan
sengaja
melakukan perbuatan seperti ini mereka berharap nama baik negeri kita semakin
tercoreng,
umat Islam juga mungkin akan dijadikan sasaran Naudzubillahi
Mindzalik.
Namun demikian jangan pernah kita bertindak emosional sehingga
kita terjebak dan justru hanya
akan memperparah masalah. Mudah-mudahan
saudara-saudaraku di Bali dan juga di Sulawesi yang
ditimpa musibah diberikan
kesabaran dan kesanggupan untuk terus menerus bertindak tepat
sehingga
memudahkan penyelesaian masalahnya, dan semoga kejadian ini dapat
mempererat kebersamaan seluruh
anak bangsa agar kita tidak menjadi hancur
karena provokasi orang-orang yang keji.
Saudara-saudaraku sekalian,
Alhamdullilah saat melakukan kunjungan ke Poso beberapa waktu yang
lalu dari
pengamatan di udara tampak betapa Masjid yang terbakar, Gereja yang
hangus,
rumah-rumah yang hancur, ladang dan toko yang rusak, kaum muslimin
yang kehilangan ayah, istri,
anak disatu sisi lain kaum Nasrani yang
kehilangan ayah, suami ,istri ,anak, suasana pada waktu
konflik begitu
mencekam, hari-hari pada waktu konflik begitu penuh
ketegangan.Pertanyaannya
siapakah yang beruntung dari kerusakan seperti ini
?
Alhamdullilah, dengan pertolongan Allah dan kebaikan bapak-bapak
Polisi, Bupati dan juga
undangan dari pendeta di Tentena (sebuah lingkungan
yang mayoritas Nasrani), dengan pembicaraan
yang dilakukan dari hati ke hati
ternyata lebih mudah dipahami dibandingkan jika pembicaraan
yang dilakukan
oleh otot ke otot.
Saudaraku yang paling kita butuhkan di negeri ini
adalah kedamaian,alam negeri kita sangat kaya
dan tidak akan bisa kita kelola
jikalau waktu kita habis untuk bertengkar, jangankan sebuah
Negeri, di rumah
pun yang kita bangun dengan kasur yang empuk, acesories rumah yang mahal,
tidak
akan ternikmati andaikata suami dan istri sibuk bertengkar, tidak akan
bahagia jika orang tua
dan anak selalu bertengkar,di kantor tidak akan nyaman
jika karyawan dan direksi atau manajemen
bertengkar, apa yang bisa diperoleh
dari pertengkaran ?
Mengapa kita bertengkar ? Salah satu penyebabnya
adalah karena kita belum terbiasa menyikapi
perbedaan dengan cara yang paling
tepat, kita sering melihat perbedaan itu sebagai permusuhan,
mental kita
belum siap melihat perbedaan, beda pendapat sering dianggap perlawanan atau
ancaman
akibatnya setiap orang lebih sibuk membela pendapatnya
sendiri.
Pertengkaran rumus dasarnya adalah ketika setiap orang
membenarkan pendapatnya, setiap kelompok
membenarkan ,ini merasa benar, itu
merasa benar, kita ambil contoh ; seorang anak merasa benar ,
bahwa memilih
sekolah harus sesuai dengan pilihan anak,sedangkan orang tua merasa benar
dengan
memilihkan jodoh atau sekolah untuk masa depan anak,akibatnya terjadi
pertengkaran , setiap
orang yang tidak terlatih untuk bisa memahami pendapat
orang lain hasilnya adalah emosional.
Semua pertengkaran diawali dengan
pembenaran,ketika terjadi tawuran antar kampung dengan
saling melempar batu,
saling melempar bom molotov, salah satu pihak merasa benar sehingga
pihak
lain merasa berhak pula untuk membalas karena sama pula merasa benar,
akibatnya pembalasan itu
akan setimpal, saling menyerang, rumah sama-sama
terbakar, banyak yang terluka, cacat,
terbunuh,akibatnya hari-hari yang
dilalui penuh ketegangan,anak-anak tidak bisa sekolah lagi,
tidak bisa
mencari nafkah, apa yang diuntungkan ? Hidup di dunia hanya satu kali saudaraku,
dan
belum tentu kita panjang umur, haruskah hidup yang sekali-kalinya ini
sengsara karena
permusuhan diantara kita.
Kita harus berbuat banyak
untuk mencapai kedamaian, kalau tidak damai tidak ada yang bisa
dinikmati,
tidak nyaman, sekolah tegang, dijalan tegang, guru was-was, orang tua melepas
anak
cemas. Kita harus bertekad program terpenting kita sekarang adalah
belajar untuk tidak
bertengkar ; ibu-ibu belajar untuk tidak bertengkar
dengan suami, berani mengalah untuk tidak
bertengkar,bapak berani mengalah
kepada istri untuk tidak bertengkar, mulailah dari diri
sendiri ,InsyaAllah
kedamaian akan dinikmati.
Kita harus mengawali untuk menyelamatkan dan
merubah bangsa ini, dengan mengawali dari diri
sendiri, sehebat apapun kita
ingin bangsa ini berubah, kita ingin umat berubah, kita ingin
keluarga
berubah, kita ingin anak berubah, tidak akan bisa kalau kita tidak
merubah
diri.Silahkan bapak memberi nasehat kepada ibu dengan memberikan
nasehat yang terbaik,tidak
akan efektif kalau bapak tidak memperbaiki diri !
ibu memberi nasehat kepada anak sampai bibir
berbusa tidak akan efektif
kecuali kalau ibu memperbaiki diri.
Sekarang kita terlalu banyak
memikirkan orang lain yang berubah sampai tidak ada waktu untuk
merubah diri.
Para komandan, para pimpinan , ingin prajuritnya berubah, tidak akan
terjadi
sebelum para pemimpinnya merubah diri.
Jika seorang komandan
ingin pasukan berubah maka komandannyalah yang harus berubah.
Bagaimana
mungkin memerintahkan prajurit, hidup bersahaja, kalau pimpinan
tidak bersahaja, jangan menyuruh
orang lain,sebelum menyuruh diri, jangan
melarang orang sebelum melarang diri sebab yang
disuruh, memiliki mata ,
telinga dan pikiran, setiap orang yang berbeda antara perkataan dan
perbuatan
akan jatuh wibawanya walaupun kita tidak berkata tetapi kalau kita gigih
memperbaiki
diri itu sudah berdampak sudah banyak.
Kepada para
pimpinan misalkan jika saya, seorang gubernur, ingin masyarakat berubah,tentu
kita
harus bertanya sudah memberi contoh apa kita untuk masyarakat ? Saya
ingin masyarakat sholeh?
Sudah sholehkah yang bicaranya ? Ingin masyarakat
akur ? pertanyaannya ,sudah akurkah saya
dengan istri? akur tidak dengan
anak? Maaf ini bukan menggurui para gubernur ? ini hanyalah
sebuah cerita di
negara antah berantah.
Kalau saya seorang guru ingin merubah murid , mau
merubah apa ? Pertanyaan seorang guru, Saya
memberi contoh apa pada
murid-murid? Murid merokok? Pertanyaannya saya merokok tidak?Bagaimana
murid
tidak merokok kalau gurunya merokok. Maaf misalnya saya seorang guru, kenapa
murid
mengganja ? Mungkin awalnya merokok , Kenapa murid merokok? Saya yang
memberikan contoh. Oleh
karena itu Ibda binafsik mulailah dari diri
sendiri.
Bukankah konsep kita ada tiga :
1. Mulailah dari diri
sendiri
2. Mulailah dari hal yang kecil
3. Mulailah saat ini
juga
Apa yang harus kita lakukan? kita harus berlatih untuk meminimalisir
konflik dengan empat
rumus :
1. Kita harus belajar bijak terhadap
kekurangan dan kekurangan orang lain ; Tidak setiap orang
berbuat salah , ada
yang salah karena tidak tahu itu salah, ada yang salah dia tahu tapi
belum
sanggup menghindar, ada yang salah karena terpaksa, ada yang salah
karena memang sering bikin
kesalahan.
2. Kalau kita ingin enak bergaul
dengan orang lain kita harus senang mengingat kebaikan dan
berani mengakui
kelebihan orang lain ; Kita ambil contoh seseorang ,ketika seorang anak
marah
kepada ibunya, cobalah untuk menuliskan kekurangan ibu, setelah selesai
cobalah untuk menuliskan
kebaikannya, apa yang ditulis ? kita di dalam perut
ibu selama sembilan bulan,ibu kita untuk
berdiri sulit, berbaring sakit,
berjalan berat ,ketika melahirkan bersimbah darah sudut antara
hidup dan
mati, ketika bayi…… sepanjang hari, sepanjang malam ibu
senantiasa
menungu,ketika kita pipis dan mengenai baju ibu, ibu kita tetap
rela,apalagi kalau kita sakit
seakan tidak boleh satu nyamuk pun menyentuh
tubuh ini, waktu kita sekolah ibu sampai hutang
bapak pinjam uang, agar kita
punya sepatu, agar kita bisa sekolah.Semakin banyak kebaikan yang
kita
pikirkan Insya Allah akan membuat semakin lunak hati ini, semakin banyak
keburukan yang
kita kumpulkan semakin dendam kesumat diri ini. Mas
alahnya
kita itu sering lebih sibuk melihat kejelekan daripada kebaikan. Tidak
adil
saudaraku, kita tidak bergaul dengan setan, pasti ada kebaikannya, kita
tidak bergaul dengan
malaikat, pasti ada kejelekannya, maka marilah senang
melihat kebaikan orang lain.
3. Kita harus mulai untuk melupakan jasa dan
kebaikan diri ; Semakin kita ingin dihargai,
semakin kita ingin dihormati,
semakin kita ingin dipuji, semakin kita banyak sakit hati hanya
akan
menyengsarakan kita , oleh karena itu lupakanlah……. Allah
Maha Melihat semakin
kita merasa berjasa hanya akan menyebabkan sakit
hati,saudaraku pujian manusia kecil, pujian
Allah-lah yang kekal,Pujian Allah
mulia dunia akherat
Wahai saudara-saudaraku para pembela umat marilah
kita melupakan jasa-jasa kita, tidak mengapa
orang lain tidak ada tahu, Aa
terkenang dengan nasehat Bung Hatta semoga Allah memuliakan
beliau, jadilah
seperti garam dilautan, asin terasa tapi tidak kelihatan, jangan seperti
gincu
kelihatan tapi tidak terasa, kita harus memulai berbuat sesuatu seperti
beton, mengokohkan tanpa
harus kelihatan, seperti jantung, siang malam kerja
tanpa kelihatan ,kita tidak akan sukses
kalau tiap kelompok ingin menonjolkan
diri, pemilu yang akan datang sebaiknya partai jangan
sibuk menonjolkan diri
tapi menonjolkan kebersamaan Insya Allah akan berbuah kesuksesan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar